Ada masa ketika kita menyadari bahwa tidak semua orang yang berada di lingkungan kerja harus menjadi teman dekat dalam kehidupan pribadi. Dulu, saya berpikir bahwa berteman di media sosial dengan rekan kerja adalah hal yang wajar. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa menjaga batasan terkadang justru membuat hidup lebih tenang.
Sekarang rasanya saya bisa sedikit lebih tenang. Saya tidak lagi terhubung dengan sebagian rekan kerja di media sosial seperti Facebook, Threads, dan WhatsApp. Semua story saya atur menjadi privat, dan beberapa akun saya blokir. Bukan karena ingin bermusuhan, tetapi karena saya merasa hubungan kami saat ini memang hanya sebatas rekan kerja.
Di tempat kerja, kami tetap berinteraksi secara profesional. Kami tetap bekerja sama, berdiskusi, dan menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Namun di luar itu, saya memilih untuk menjaga ruang pribadi saya sendiri.
Menariknya, saya masih membiarkan mereka mengikuti akun Instagram dan TikTok saya. Alasannya sederhana, agar perubahan ini tidak terlihat terlalu mencolok dan tidak menimbulkan berbagai pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan. Lagi pula, media sosial bukanlah ukuran kedekatan seseorang.
Semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa ketenangan adalah sesuatu yang berharga. Tidak semua aktivitas, pemikiran, atau cerita pribadi harus diketahui oleh orang-orang di sekitar kita. Ada hal-hal yang cukup dinikmati sendiri atau dibagikan kepada orang-orang yang benar-benar kita percaya.
Menjaga batasan bukan berarti membenci. Mengurangi akses bukan berarti memutus silaturahmi. Kadang itu hanya cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental, menghindari drama yang tidak perlu, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk hidup lebih nyaman.
Pada akhirnya, tidak semua orang harus masuk ke lingkaran pribadi kita. Ada yang memang tempatnya sebagai sahabat, ada yang sebagai keluarga, dan ada pula yang cukup menjadi rekan kerja. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

