Di balik keputusan tinggal kelas

Hari ini pembagian rapor.

Dan hari ini, untuk kali kedua dalam perjalanan mengajarku, aku merasa menjadi guru yang jahat.

Di kelas yang kuampu, ada tiga anak yang harus mengulang di kelas yang sama tahun depan. Salah satunya tidak datang mengambil rapor. Rapor itu diwakili oleh neneknya.

Neneknya menerima keputusan itu dengan cukup baik. Tidak ada protes. Tidak ada tangisan. Tidak ada kemarahan. Beliau hanya mendengarkan penjelasan yang kusampaikan.

Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.

Namun beberapa waktu kemudian, ibunya datang ke sekolah untuk mengurus keperluan lain. Saat itu, ia menghampiriku sambil menangis.

Katanya, anaknya menangis di rumah dan tidak mau sekolah lagi.

Karena melihat anaknya menangis, ia pun ikut menangis.

Aku terdiam.

Aku tidak tahu harus merespons bagaimana.

Sebagai seorang ibu, mungkin hatinya sangat sakit melihat anaknya harus tinggal kelas. Tidak ada orang tua yang ingin mendengar kabar seperti itu tentang anaknya.

Aku memahami itu.

Tapi di sisi lain, aku juga tahu apa yang terjadi selama satu tahun ini.

Anak itu sering tidak masuk sekolah tanpa kabar. Dalam satu semester, banyak sekali tugas dan penilaian harian yang kosong karena ketidakhadirannya.

Saat teman-temannya belajar membaca setiap hari, ia tidak ada di kelas karna tidak hadir. Itupun tanpa kabar.

Saat teman-temannya berlatih mengenal huruf, menyusun suku kata, dan membaca kalimat sederhana, ia kehilangan banyak kesempatan belajar.

Akibatnya, hingga akhir tahun ajaran, ia masih kesulitan mengenali huruf. Bahkan beberapa huruf yang sudah diajarkan berulang kali masih sering terlupa.

Di sela tangisnya, sang ibu berkata bahwa anaknya sebenarnya sudah bisa menyambung kata.

Aku hanya mendengarkan.

Karena aku tahu kondisi yang sebenarnya.

Aku tahu seberapa jauh kemampuan membaca anak itu saat berada di kelas.

Dan aku tahu keputusan ini bukan diambil dalam satu hari.

Bukan karena aku tidak sayang.

Bukan karena aku ingin menghukum.

Justru karena aku tidak ingin membiarkannya melangkah ke jenjang berikutnya dengan bekal yang belum cukup.

Kadang menjadi guru bukan hanya tentang memberi nilai bagus, memberi pujian, atau membuat anak senang.

Kadang menjadi guru berarti mengambil keputusan yang akan membuat kita terlihat jahat.

Keputusan yang mungkin membuat anak menangis.

Keputusan yang mungkin membuat orang tua kecewa.

Keputusan yang bahkan membuat guru itu sendiri pulang dengan perasaan bersalah.

Tapi jika seorang anak belum memiliki kemampuan dasar yang sangat dibutuhkan untuk belajar di tingkat berikutnya, apakah benar membiarkannya naik kelas adalah bentuk kebaikan?

Ataukah justru itu bentuk ketidakpedulian yang dibungkus rasa kasihan?

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, hari ini aku pulang dengan hati yang berat.

Aku ikut sedih melihat tangisan seorang ibu.

Aku ikut sedih membayangkan perasaan seorang anak.

Namun aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan yang selama ini terjadi di kelas.

Mungkin beginilah rasanya menjadi guru.

Terkadang harus memilih keputusan yang tidak disukai siapa pun.

Dan malam ini, aku hanya berharap suatu hari nanti anak itu memahami bahwa keputusan ini bukan karena aku ingin menjatuhkannya.

Tetapi karena aku ingin memberinya kesempatan untuk belajar lebih kuat sebelum melangkah lebih jauh.

Semoga tahun depan menjadi awal yang lebih baik untuknya.

Dan semoga aku tetap diberi kekuatan untuk mengambil keputusan yang benar, meskipun terkadang membuatku merasa menjadi guru yang jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah mengunjungi blog bu hany...
Semoga bisa bermanfaat. Mohon tinggalkan komentar dan saran jika berkenan.