Ada kalanya kita bertemu seseorang, melihat sebuah situasi, atau merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tidak ada bukti yang cukup kuat untuk meyakinkan orang lain, tetapi hati kecil kita seperti menangkap sesuatu yang berbeda.Kita melihat tanda-tanda yang mungkin tidak dilihat orang lain.
Kita membaca sikap yang tersembunyi di balik senyum.
Kita merasakan ketulusan yang tidak perlu banyak kata.
Atau justru melihat kepura-puraan yang dibungkus dengan kebaikan.
Namun ketika kita mencoba menyampaikan apa yang kita rasakan, sering kali yang datang justru keraguan.
"Terlalu suudzon."
"Jangan menilai orang begitu."
"Mungkin kamu salah paham."
Akhirnya kita memilih diam.
Bukan karena tidak yakin dengan apa yang kita lihat, tetapi karena tidak semua hal perlu diperdebatkan.
Ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh waktu.
Seperti saat membaca sebuah buku.
Tidak semua cerita dapat dipahami hanya dari satu halaman. Kadang kita harus melanjutkan sampai beberapa bab berikutnya untuk mengetahui siapa tokoh yang sebenarnya baik, siapa yang hanya berpura-pura, dan siapa yang selama ini salah dipahami.
Begitu juga dengan manusia.
Karakter seseorang tidak selalu terlihat pada pertemuan pertama. Bahkan tidak jarang seseorang mampu mempertahankan topengnya dalam waktu yang cukup lama.
Tetapi waktu memiliki cara yang unik untuk membuka semuanya.
Perlahan.
Tanpa dipaksa.
Tanpa perlu dibongkar.
Tanpa perlu diumumkan.
Apa yang selama ini tersembunyi akan menemukan jalannya sendiri untuk terlihat.
Karena pada akhirnya, kebiasaan tidak bisa terus disembunyikan. Sikap asli tidak bisa terus ditutupi. Dan karakter seseorang akan selalu menemukan cara untuk memperkenalkan dirinya.
Saat itulah kita sering tersenyum kecil dalam hati.
Bukan karena senang melihat kenyataan yang terbukti.
Bukan karena merasa lebih hebat.
Tetapi karena akhirnya kita mengerti bahwa perasaan yang dulu kita abaikan ternyata tidak keliru.
Bahwa apa yang kita baca sejak awal memang ada.
Bahwa intuisi yang kita miliki bukan sekadar prasangka.
Dan bahwa diam selama ini ternyata lebih baik daripada sibuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Sebab tidak semua kebenaran harus diperjuangkan dengan perdebatan.
Ada kebenaran yang cukup ditunggu.
Biarkan waktu bekerja.
Biarkan kenyataan berbicara.
Biarkan setiap orang menunjukkan dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, yang asli akan terlihat asli.
Yang dibuat-buat akan lelah mempertahankan perannya.
Dan jika suatu hari semuanya menjadi jelas, mungkin kita hanya akan berkata dalam hati:
"Aku tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Tapi kalau akhirnya terbukti, berarti sejak awal aku memang tidak salah membaca."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah mengunjungi blog bu hany...
Semoga bisa bermanfaat. Mohon tinggalkan komentar dan saran jika berkenan.