Ketika Pembagian Kelas Menjadi Sumber Kegelisahan

Hari ini sekolah mengadakan kegiatan Komunitas Belajar (Kombel). Agenda pertama adalah refleksi hasil observasi pembelajaran. Satu per satu guru menyampaikan refleksi masing-masing sesuai arahan kepala sekolah. Ada yang berbagi tentang keberhasilan pembelajaran, ada pula yang menyampaikan tantangan yang masih dihadapi di kelas.

Setelah sesi refleksi selesai, pembahasan berlanjut ke topik yang ternyata cukup sensitif bagi sebagian guru, yaitu rencana rolling kelas untuk tahun pelajaran berikutnya.

Kepala sekolah menyampaikan bahwa penentuan wali kelas nantinya akan dilakukan berdasarkan berbagai pertimbangan yang matang. Seperti yang sering terjadi, kelas yang paling banyak menjadi perhatian adalah kelas 1 dan kelas 6. Dua jenjang yang memiliki tantangan tersendiri dan sering membuat guru berpikir berkali-kali.

Mendengar penjelasan tersebut, aku sempat merasa lega. Pemilihan wali kelas baru akan dilakukan menjelang pembagian rapor. Setidaknya aku tidak perlu repot terlibat dalam proses pendaftaran siswa baru secara online atau menyambut peserta didik baru jika tidak mendapat amanah di kelas 1.

Namun, ada satu kemungkinan yang tetap membuatku berpikir: bagaimana jika justru mendapat amanah menjadi guru kelas 6?

Setelah rapat selesai, suasana santai mulai terasa. Tetapi kegelisahan rupanya masih tersisa. Salah seorang guru bercanda sambil berkata, "Masa kelas 4 dapat kelas tinggi lagi?"

Aku menanggapi dengan santai, "Oh berarti maunya kelas 1 ya?"

Ia langsung menjawab, "Oh tidak, kelas 3 aja."

Ya, kelas 3. Adalah kelas ter-aman yang bisa dipilih untuk kelas rendah. 

Semua tertawa. Obrolan ringan itu seolah hanya candaan biasa.

Namun setelah pulang sekolah, ternyata topik tersebut belum benar-benar berakhir. Di grup WhatsApp, masih ada gurauan yang mengarah pada pembagian kelas. Salah seorang guru bahkan mengirim foto guru lain yang sedang berfoto bersama siswa kelas 1 sambil memberi komentar, "Guru kelas 1."

Sekilas terlihat hanya candaan. Tetapi dari sana aku justru mendapat sebuah pelajaran menarik.

Aku menyadari bahwa ketika seseorang merasa cemas terhadap suatu kemungkinan, terkadang ia akan merasa lebih tenang jika kemungkinan itu diarahkan kepada orang lain. Bukan karena benar-benar ingin mencelakakan, tetapi mungkin sebagai cara mengurangi kekhawatiran dalam dirinya sendiri.

Pada akhirnya, hampir semua orang ingin menyelamatkan dirinya masing-masing. Jika ada kesempatan untuk menghindari sesuatu yang dianggap berat, mereka berharap beban itu jatuh kepada orang lain.

Mungkin terdengar lucu. Mungkin juga sangat manusiawi.

Dunia kerja memang mengajarkan banyak hal. Bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia berpikir, merasa khawatir, mencari rasa aman, dan terkadang tanpa sadar berharap orang lain yang menerima beban yang tidak ingin mereka tanggung.

Dari kejadian sederhana hari ini, aku belajar untuk tidak terlalu terkejut dengan hal-hal semacam itu. Setiap orang memiliki kegelisahannya sendiri. Setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing.

Dan pada akhirnya, siapa pun yang nanti mendapat amanah mengajar kelas 1 atau kelas 6, semoga mampu menjalaninya dengan baik. Karena sesungguhnya setiap kelas memiliki tantangannya sendiri, sekaligus kesempatan untuk bertumbuh sebagai seorang pendidik.

@niey_59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah mengunjungi blog bu hany...
Semoga bisa bermanfaat. Mohon tinggalkan komentar dan saran jika berkenan.